Jakarta, 1 Juli 2025 — Ada momen berbeda di peringatan Hari Bhayangkara ke-79 tahun ini. Selain dihadiri Presiden Prabowo dan sejumlah tokoh nasional, upacara yang digelar di Monas ini juga diwarnai kehadiran orang-orang yang dulu pernah dicap sebagai ancaman—yakni mantan narapidana terorisme (napiter).

Salah satu sorotan utama datang dari Satgaswil Densus 88 Jawa Barat, yang turut mengirimkan sekitar 60 orang eks napiter asal Jawa Barat ke Jakarta untuk mengikuti momen bersejarah ini. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat dari kemenangan atas ideologi kekerasan, dan bukti bahwa jalan pulang ke pangkuan NKRI selalu terbuka.

Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Ini adalah bagian dari transformasi besar yang sedang dibangun oleh Polri dan berbagai elemen masyarakat, bahwa siapa pun punya kesempatan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Dari Deradikalisasi ke Reintegrasi

Dalam sambutannya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia telah mencatat nol serangan teror sejak 2023. Salah satu kuncinya adalah pendekatan lunak (soft approach) dalam menangani eks napiter—bukan hanya sekadar membebaskan, tapi juga membina.

Program deradikalisasi ini melibatkan banyak pihak, mulai dari tokoh agama, psikolog, hingga komunitas akar rumput. Eks napiter dilibatkan dalam kegiatan sosial, pelatihan kerja, bahkan diberi ruang untuk menyampaikan pesan damai kepada masyarakat luas.

Cinta Tanah Air Tak Pernah Terlambat

Hadirnya eks napiter dalam upacara Bhayangkara bukan sekadar simbol. Mereka duduk bersama ribuan peserta lain, mengikuti setiap rangkaian acara dengan khidmat. Ini menjadi pesan kuat bahwa kesetiaan pada NKRI bisa tumbuh kembali, bahkan dari orang-orang yang dulunya pernah tersesat.

Beberapa dari mereka bahkan aktif mengedukasi masyarakat, menjadi duta damai, dan menyuarakan pentingnya menjaga persatuan. Dalam keterangan terpisah, beberapa eks napiter menyebut momen ini sebagai bentuk “pembuktian diri” bahwa mereka benar-benar ingin menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.

SGW Jabar Dukung Langkah Ini

Sebagai bagian dari gerakan pencegahan, SGW Jabar memandang momentum ini sebagai tonggak penting dalam perjuangan melawan paham radikal. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan pendekatan manusiawi, kolaboratif, dan penuh harapan.

Transformasi ini adalah bukti nyata bahwa perubahan itu mungkin. Bahwa siapa pun bisa bangkit dan berkontribusi untuk bangsa, asal diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan kedua.

Hadirnya eks napiter dalam upacara Bhayangkara mengisyaratkan tiga hal penting:

  1. Cinta tanah air tetap bisa tumbuh kembali, bahkan bagi mereka yang sempat tersesat.
  2. Deradikalisasi bukan hanya penahanan, tetapi juga pembinaan dan integrasi.
  3. Polri dan masyarakat bekerja bersama, untuk meminimalisir empati terhadap narasi radikal.

Momentum ini jadi pengingat bahwa rekonsiliasi dan toleransi adalah pondasi penting dalam menjaga NKRI.

Eks napiter yang hadir di upacara HUT Bhayangkara 1 Juli 2025 mengajarkan kita satu hal penting: semangat kembali ke jalan damai adalah bagian dari cinta tanah air. Deradikalisasi bukan berarti melemah, tapi justru memperkuat akar persatuan bangsa.

Mari terus jaga semangat ini. Karena Indonesia milik kita bersama, dan perdamaian harus dirawat—dimulai dari hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *